Home  / Advertorial
Repu Sagu, Limbah Membawa Berkah
Selasa, 19 Maret 2019 17:59
Ket foto : salah seorang warga saat mengolah sagu.
MERANTI - Selama ini, puluhan ton repu sagu yang dihasilkan pabrik-pabrik sagu, terbuang percuma. Hasil ekstraksi limbah dibuang begitu saja oleh pengusaha, karena tidak mampu diolah.

Namun tidak di Desa Tanjung Peranap, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kepulauan Meranti, Riau. Limbah sagu berupa ampas yang disebut repu ini justru menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar.

"Repu yang awalnya tidak berguna dan merusak lingkungan, ternyata nilai jualnya tinggi," ungkap Kepala Desa Tanjung Peranap, Aswandi, Selasa (19/3/2019).

Dijelaskannya, di Desa Tanjung Peranap terdapat 11 kilang sagu aktif, atau menghasilkan sekitar 200-300 ton sagu basah per hari. Dan, dari 1 ton sagu pula menghasilkan limbah yang disebut repu sekitar 500 kilo.

"Awal, repu ini terbuang begitu saja. Namun, setelah adanya penelitian yang dilakukan mahasiswa IPB, ternyata bisa diolah menjadi pakan ternak, berhasil dan sapi-sapi yang memakannya gemuk-gemuk," imbuhnya.

Atas hal itu pula, sambung Aswandi, Pemerintah Desa Tanjung Peranap kemudian melakukan musyawarah dengan pemilik kilang sagu dan warga, agar limbah sagu tersebut bisa diambil percuma dan dimanfaatkan oleh warga.

"Pihak kilang sagu juga senang atas hal itu. Karena selain menghindari pencemaran lingkungan, limbah sagu tersebut juga bisa mengangkat ekonomi warga," bebernya.

Saat ini pula, sebut dia, kelompok usaha masyarakat tersebut setidaknya sudah menarik sekitar 50 orang pekerja yang terdiri dari ibu rumah tangga, serta beberapa pekerja bantu laki-laki.

"Sistem ekonomi syari'ah. Semua keputusan kita ambil berdasarkan rapat bersama," katanya.

Berkat koordinasi yang dilakukan, sebut Aswandi, saat ini sudah ada perusahaan yang mau menampung limbah sagu Desa Tanjung Peranap, untuk diolah menjadi pakan ternak. Limbah yang diolah repu kering itu setidaknya akan dibandrol dengan harga Rp250 per kilo.

"Insya Allah, untuk tahap uji coba kalau tidak ada halangan bulan ini kita akan mengirim 300 ton repu kering ke Jakarta," ucapnya.

Pengolahan limbah sagu menjadi bernilai ekonomis ini, kata Aswandi, tidaklah sulit. Hanya dijemur, kemudian setelah kering dimasukan ke dalam karung, lalu siap untuk dijual. "Artinya, kita hanya menyuplai bahan baku saja," cetusnya.

Aswandi berharap dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kepulauan Meranti. Baik dalam bentuk modal maupun peralatan. Misalnya keperluan alat berat untuk membuat bak limbah, agar limbah yang keluar dari bangsal sagu ditampung di tempat khusus dan tidak lagi mengalir sembarangan.

"Jika memang berhasil dengan uji coba ini, kedepan usaha ini akan kita naungi dalam sebuah koperasi. Apalagi saat ini kita sudah ada koperasi Agro Pranap Bertuah, tinggal mengaktifkannya lagi," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM (DisperindagkopUKM) Kabupaten Kepulauan Meranti, Drs Azza Fahroni, menyarankan agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bisa berkoperasi. Karena koperasi menaungi kelompok, sehingga bisa dibantu fasilitas oleh Pemerintah.

"Yang bisa dibantu hanya yang masuk dalam kelompok yaitu koperasi, karena ada aturan yang mengatur masalah hibah," ungkap Azza.

Dijelaskannya, bahwa koperasi itu milik anggota, bukan pengurus, karena koperasi dibangun atas kepentingan bersama. "Koperasi adalah wadah untuk menggerakkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya. (Adv)

Akses berita terbaru versi mobile di: m.merantione.com


Tinggalkan Komentar

Nama*
Email*
Website
Komentar*

* Masukkan kode diatas!
BACK TO TOP
Tentang Kami. Redaksi. Pedoman Media Siber. RSS. Kontak. Mobile Version
2014 merantione.com, All Rights Reserved.